NURJATINEWS.COM – KARAWANG 18 JULI 2026
Devi menatap pantulan dirinya di cermin rias yang mulai berdebu. Lima tahun sejak ia memutuskan berhenti dari dunia malam, wajah yang dulu menjadi magnet bagi ratusan pria hidung belang kini tampak mengerikan.
Kulitnya pucat, keriputnya melekuk dalam, namun anehnya, ada titik-titik di bawah kulit pipi dan dagunya yang sesekali berkilat memantulkan cahaya lampu kamar. Itu adalah sisa-sisa susuk emas dan berlian yang ditanamnya dua puluh lima tahun lalu.
Dua puluh tahun ia berjaya, namun lima tahun terakhir ini adalah neraka dunia.Penyakit misterius itu mulai menyerang tepat setelah ia berniat bertobat. Medis angkat tangan; dokter hanya menggeleng kepala melihat hasil rontgen yang bersih,.
padahal Devi merasa tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum membara setiap malam jumat. Jarum-jarum gaib itu menolak lepas. Sang dukun yang dulu menanamnya sudah lama mati, membawa rahasia mantra pelepasan ke dalam liang kubur.
Malam itu, di dalam rumah gedong hasil dua puluh tahun menjajakan diri dan memakai penglaris,Devi mengerang kesakitan. Kasur empuknya terasa seperti ranjang paku. Tidak ada satu pun mantan pemujanya yang datang menjenguk.
Bahkan keluarganya, yang bertahun-tahun hidup nyaman dari uang kiriman Devi, hanya berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan ngeri sekaligus muak.
Lepaskan… tolong panggilkan kiai… sakit…” bisik Devi dengan napas yang terputus-putus. Air matanya meleleh, membasahi pipinya yang tiba-tiba membiru membusuk.Namun, sebelum doa sempat terucap dari bibirnya yang kelu, pasokan udara di dadanya terhenti.
Mata Devi terbelalak maut. Tepat pada jam dua belas malam, ia menghembuskan napas terakhirnya dalam kesendirian yang mencekam. Bau busuk langsung menyerbak, memaksa keluarga yang menungguinya menutup hidung dan berpaling.
Kematian Devi rupanya tidak membawa kedamaian. Sehari setelah jasadnya dikebumikan secara terburu-buru, rumah mewah, tanah, dan deposito ratusan juta yang ditinggalkannya langsung menjadi medan perang.
Keluarga besarnya yang selama ini tampak harmonis berubah menjadi serigala yang lapar.”Aku yang merawatnya di akhir hayat! Rumah ini hakku!” teriak sang adik sulung sambil menggebrak meja jati di ruang tamu.
Tapi uang kuliah anak-anakmu bertahun-tahun pakai uang Devi! Kami yang tidak kebagian apa-apa yang lebih berhak atas tanah di kota!” balas sang sepupu tidak mau kalah.Pertikaian itu berbuntut panjang dan berdarah.
Kakak beradik saling lapor ke polisi, fitnah menyebar, dan hubungan darah itu terputus total. Belum genap satu tahun Devi tiada, bank menyita rumah gedong tersebut karena sengketa yang tak kunjung usai.
Uang tabungannya habis tak bersisa untuk membayar biaya pengacara dan denda.Harta yang dikumpulkan Ratna selama dua puluh tahun dengan mengorbankan kesucian dan jiwanya, menguap begitu saja seperti asap.
Tidak ada berkah, tidak ada kedamaian,Rumah besar itu kini kosong, terbengkalai, dan masyarakat sekitar sering mendengar suara perempuan menangis meratapi penyesalan dari dalam sana setiap malam tiba.
(By Vandamme)



