Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,AIR MATA HARU TUMPAH MALAM ITU, MENGANTAR TAUFIK DAN SALMI MENUJU PELAMINAN SUCI

9
×

CERPEN,AIR MATA HARU TUMPAH MALAM ITU, MENGANTAR TAUFIK DAN SALMI MENUJU PELAMINAN SUCI

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 18 JUNI 2026

Desir angin laut Tanjung Baru Karawang malam itu terasa begitu fingin, membawa aroma garam yang khas dan suara deburan ombak yang konsisten menghantam pantai.Di sebuah sudut pantai yang sepi, Taufik menggenggam jemari Salmi dengan erat.

Baginya, kehangatan tangan Salmi adalah satu-satunya kedamaian di tengah badai kehidupan yang sedang mereka hadapi.Dua tahun sudah mereka menjalin cinta di balik bayang-bayang senja.

Hubungan mereka adalah sebuah rahasia besar, Orang tua Salmi menentang keras kedekatan mereka, menganggap Taufik bukan pria yang tepat untuk putri mereka. Namun, alih-alih menyerah, penolakan itu justru membuat cinta Taufik sedalam lautan.

Di hadapan Salmi, Taufik selalu berbisik, “Biarlah dunia tidak tahu, cukup semesta dan doa-doa kita yang bising di langit.” Salmi hanya bisa tersenyum getir, menyandarkan kepalanya di bahu Taufik, berharap waktu akan berpihak pada mereka.

Waktu terus bergulir, menguji keteguhan hati mereka hingga memasuki tahun keempat. Ujian itu terasa semakin berat, namun takdir memiliki caranya sendiri untuk memecah kebuntuan. Suatu hari, sebuah kabar besar datang.

Salmi mengandung buah cinta mereka, Berita itu membawa getaran hebat, campuran antara rasa takut dan haru yang membuncah,Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa kesabaran selama empat tahun,Taufik kembali datang ke rumah orang tua Salmi.

Kali ini, ia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan dengan tanggung jawab penuh sebagai seorang laki-laki. Kehadiran calon janin di rahim Salmi menjadi titik balik yang tak terduga. Hati orang tua Salmi yang selama empat tahun sekeras karang, perlahan luluh dan mengikis.

Badai penolakan itu akhirnya reda, berganti menjadi sebuah anggukan restu yang selama ini mereka impikan. Air mata haru tumpah malam itu, mengantar Taufik dan Salmi menuju pelaminan suci.

Satu tahun kemudian, suasana pantai yang dulu sepi kini terasa jauh lebih hidup. Di sebuah rumah kecil dekat pesisir, tangis bayi yang melengking memecah kesunyian malam. Salmi melahirkan seorang anak yang sehat, buah dari cinta yang dulu harus bersembunyi di balik gelapnya malam.

Taufik duduk di sisi tempat tidur, menatap Salmi yang tersenyum kelelahan namun memancarkan kebahagiaan luar biasa.Di pelukan Salmi, seorang manusia mungil sedang menggeliat pelan.Taufik menyentuh jemari kecil anaknya yang begitu halus.

Perjuangan panjang selama bertahun-tahun, air mata, dan penantian dalam diam, semuanya terbayar lunas dalam satu momen ini. Cinta yang dulu mereka sembunyikan di balik karang, kini telah lahir dan mekar seutuhnya di bawah langit yang terang.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *