NURJATINEWS.COM – KARAWANG 12 JUNI 2026
Dua tahun.Bagi Mawar, setiap detak jarum jam di rumah megah pinggiran Riyadh terasa seperti tetesan asam yang membakar kulit. Ia berangkat ke Arab Saudi membawa satu mimpi sederhana, melunasi utang keluarga dan membangun rumah layak untuk suaminya, Purnama, di kampung halaman.
Namun, di balik dinding-dinding marmer yang dingin itu, mimpi Mawar runtuh. Siksaan fisik dan eksploitasi dari majikan laki-lakinya meninggalkan trauma mendalam, serta sebuah rahasia yang kian hari kian membesar di dalam rahimnya.
Mawar terjebak, tak berdaya, dan ketakutan dalam sunyi malam.Hari kepulangan yang dinanti akhirnya tiba,Kontrak dua tahunnya selesai.
Sepanjang penerbangan menuju Jakarta, tangan Mawar tidak pernah lepas dari perutnya yang mulai membuncit. Jantungnya bertalu hebat.Ia tahu, ada badai yang siap menerjang sesampainya ia di rumah.
Namun, sebagian kecil dari hatinya masih berharap bahwa Purnama, lelaki yang melepasnya dengan kecupan dua tahun lalu, akan mau mendengarkan penderitaannya dan mendekapnya erat.
Angkutan pedesaan berhenti tepat di depan rumah barunya yang setengah jadi,rumah yang dibangun dari tiap tetes keringat Mawar di negeri orang.Purnama berdiri di ambang pintu.
Tidak ada senyum, tidak ada binar rindu. Matanya langsung tertuju pada perut Mawar. Tatapan itu seketika berubah menjadi dingin dan penuh jijik.
Jadi, rumor itu benar?” suara Purnama bergetar, menahan amarah yang meluap.”Kang, dengarkan aku dulu… Aku dijebak, aku tidak punya pilihan di sana,” tangis Mawar pecah, ia bersimpuh di kaki suaminya, mencoba meraih jemari Purnama.
Namun,Purnama menepisnya dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik masuk ke dalam rumah dan keluar membawa selembar kertas putih yang sudah ditandatanganinya.
Surat cerai.”Kau sebut ini hasil kerja keras? Kau pulang membawa noda dan aib untuk keluarga kita!” teriak Purnama sambil melemparkan kertas itu ke wajah Mawar.
Pergi dari sini! Rumah ini memang dibangun dengan uangmu, tapi aku tidak sudi tinggal dengan perempuan nista.”Tetangga mulai berbisik di balik pagar.Mawar berdiri perlahan, memandangi surat cerai di tangannya, lalu menatap rumah yang ia bangun dengan darah dan air mata.
Logika dan hatinya hancur berkeping-keping. Diusir oleh suami yang ia perjuangkan adalah puncak dari segala kepedihan.Mawar membalikkan badan, menyeret koper tuanya menjauh dari rumah itu tanpa menoleh lagi.
Di tengah tatapan sinis orang-orang kampung, ia mengelus perutnya yang tiba-tiba bergerak halus. Sebuah tendangan kecil dari dalam rahim seolah berbisik,Ibu, aku ada di sini.
Seketika, air mata Mawar mengering. Runtuhnya pernikahan itu justru melahirkan kekuatan baru. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan janin di kandungannya, ia tidak akan menyerah.
Langkah kakinya yang tadinya gemetar, kini mengayun pasti menuju masa depan baru, demi menghidupi nyawa tak berdosa yang kini menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap hidup.
(By Vandamme)

