NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 JUNI 2026
Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menguji iman seorang perempuan. Bagi Rodiah, setiap kayuhan sepeda tuanya mengangkut beban yang jauh lebih berat daripada bakul jamu di punggungnya.
Sejak suaminya wafat,Rodiah harus menghidupi Taufik, anak semata wayangnya yang masih balita.Menjadi janda muda di kampung berpenduduk padat bukanlah hal mudah.
Setiap kali Rodiah menjajakan kunyit asam atau beras kencur, tatapan mata para lelaki sering kali berubah makna. Bukan lagi tatapan pembeli yang haus, melainkan tatapan berbau nafsu.
Jamunya manis, tapi yang jual jauh lebih manis.Kapan main ke rumah,Rodiah Nanti Mas bayar lima kali lipat,” bisik Darman, seorang pria beristri yang kerap menghadang sepedanya di gang sepi.
Rodiah hanya tersenyum kecut, memendam sesak di dada. Di lain hari, seorang duda kaya raya terang-terangan melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas bakulnya. “Kamu tidak perlu capek keliling lagi,Rodiah Cukup layani saya,” katanya.
Rodiah mengembalikan uang itu dengan tangan gemetar namun tatapan mata yang tegas. Bagi Rodiah, kehormatan adalah mahkota yang tidak akan pernah ia jual mati, demi harga dirinya dan masa depan Taufik.
Waktu bergulir, lima tahun pun berlalu. Zaman berubah, dan fisik Rodiah tak lagi sekuat dulu untuk terus menggendong bakul atau mengayuh sepeda di bawah terik matahari. Dengan modal tabungan yang ia kumpulkan dari sisa rupiah demi rupiah,Rodiah memutuskan beralih profesi.
Ia berganti haluan menjadi penjual sayur keliling menggunakan gerobak dorong.Setiap jam tiga pagi, saat warga kampung masih terbuai mimpi,Rodiah sudah memilah sawi, merapikan ikat kangkung, dan menata cabai merah segar di pasar induk.
Aroma jamu yang dulu melekat pada tubuhnya, kini berganti dengan aroma segar dedaunan dan tanah basah.Meski profesinya berubah dan usianya bertambah, status Lastri tetap sama,ia memilih tetap menjada.
Keanggunan dan ketegasan yang memancar dari wajahnya ternyata belum juga menyurutkan niat orang-orang yang ingin menggoda. Di pasar induk maupun di gang-gang kampung tempatnya menjajakan sayur, godaan baru tetap berdatangan.
Bu Rodiah repot amat dorong gerobak tiap hari. Ikut saya saja, hidup enak, semua kebutuhan dijamin,” goda seorang bandar sayur kaya di pasar.Rodiah hanya menata ikatan bayamnya dengan tenang.
Terima kasih, Pak,Saya lebih suka mencuci tangan dari keringat sendiri daripada menengadahkan tangan pada janji yang belum tentu suci,” jawabnya santun namun menohok.Bagi Rodiah warna-warni sayuran di gerobaknya adalah simbol kejujuran hidup.
Ia tidak butuh istana instan jika harus menukar kesucian diri yang selama delapan tahun ini ia jaga dengan darah dan air mata.Kini,Taufik sudah tumbuh menjadi remaja yang berbakti,Setiap sore, setelah pulang sekolah.
Taufik selalu menyambut ibunya di pintu rumah, mencium tangan Rodiah yang mulai kasar karena kerja keras.Di mata Taufik, sang ibu bukan sekadar penjual sayur keliling, melainkan pahlawan tanpa tanda jasa yang berdiri tegak di atas kakinya sendiri, menjaga kehormatan hingga senja menjemput hari.
(By Vandamme)



