Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

Sentuhan Ikhlas Uwak Darma, Mengalirkan Energi Positif, Menjemput Kesembuhan Penyakit di Tubuh Pasien.

2
×

Sentuhan Ikhlas Uwak Darma, Mengalirkan Energi Positif, Menjemput Kesembuhan Penyakit di Tubuh Pasien.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG Di bawah langit Kota Pangkal Perjuangan, nama Sudarma sudah amat lekat, terutama di telinga para aktivis dan kuli tinta. Pria berusia 55 tahun yang akrab disapa Uwak Darma ini adalah personifikasi dari kesederhanaan. Penampilannya selalu rapi, tutur katanya supel, dan yang paling memikat: hatinya teramat rapuh jika melihat sesama sedang dirundung kesulitan.

Namun, di balik pembawaannya yang membumi, tak banyak yang tahu bahwa Tuhan menitipkan sebuah “anugerah” indah di jemarinya. Tanpa sekat suku maupun bahasa, kebiasaan Uwak Darma yang gemar menolong sesama berbuah karunia ilahi—kemampuan memulihkan berbagai penyakit yang kerap kali membuat dunia medis angkat tangan.

Kesaksian dari Secangkir Kopi

Cerita tentang karomah kesembuhan ini mengalir hangat dari Hamid Ambon (60), Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Karawang, yang juga sahabat karib Uwak Darma. Sore itu, Kamis (28/5), sembari menikmati kopi santai di Posko JWI Karawang, Jalan Manunggal VII, Dusun Krajan 1, Desa Tegalsawah, Karawang Timur, Hamid membuka tabir kisah yang selama ini berjalan sunyi.

Uwak Darma saat berkunjung ke Kantor Redaksi Majalah Perjuangan, Jl Dewi Sartika, Karawang.

“Uwak Darma itu sering sekali menolong orang yang menderita sakit pinggang akibat saraf terjepit. Tanpa meja operasi, tanpa pisau bedah. Beliau hanya mengusap pelan dengan telapak tangannya di sekitar bagian tubuh yang sakit. Alhamdulillah, atas izin-Nya, pasien langsung bisa berdiri dan berjalan normal kembali,” ungkap Hamid dengan mata berbinar penuh takjub.

Kisah heroik kemanusiaan ini bukan bualan. Hamid menceritakan momen lain saat mereka tengah berjalan bersama ke sebuah perkampungan. Di sana, mereka berpapasan dengan seorang lansia yang terserang stroke ringan. Kondisinya memprihatinkan: bicaranya sudah mbalelo (tidak jelas) dan langkah kakinya terseret-seret.

Melihat penderitaan di depan mata, jiwa penolong Uwak Darma terusik. Ia mendekat, lalu mulai menyasar lembut urat-urat saraf, mulai dari pergelangan tangan hingga ke leher sang pasien.

“Awalnya si pasien sempat menjerit kesakitan. Tapi lama-kelamaan dia terdiam, mulai merasakan efek perubahan yang menyejukkan. Luar biasa, sore itu juga beliau langsung bisa bicara dengan artikulasi yang jelas,” imbuh Hamid, mengenang peristiwa batin tersebut.

Kekuatan Doa dan Transfer Energi Positif

Saat Redaksi Majalah Perjuangan menemuinya langsung dan menanyakan perihal metode pengobatan alternatif yang ia jalani, Uwak Darma hanya tersenyum bersahaja. Tidak ada kesan jumawa, pun tidak ada klaim-klaim mistis yang berlebihan.

Ia menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah Metode Transfer Energi Positif. Sebuah ikhtiar menyalurkan energi baik untuk memperbaiki sistem saraf yang tersumbat atau rusak, seperti pada kasus saraf kejepit maupun gangguan motorik lainnya.

Namun, bagi Uwak Darma, teknik hanyalah perantara. Kunci utama penyembuhan justru ada pada dimensi spiritual dan psikologis si penderita sendiri.

“Modal utama dari upaya membantu kesembuhan pasien adalah kekuatan doa, keikhlasan, dan keinginan kuat di dalam diri pasien sendiri untuk sembuh dari penyakitnya. Saya hanya perantara, kesembuhan mutlak milik Yang Maha Kuasa,” pungkas Uwak Darma menutup perbincangan.

Dari sudut kecil Karawang Timur, Uwak Darma memberikan kita sebuah pelajaran berharga: bahwa mukjizat itu seringkali hadir lewat tangan-tangan yang ikhlas, dan perjuangan melawan penyakit selalu dimulai dari hati yang menolak untuk menyerah.

(Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *