Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN, PERJUANGAN DUA DEKADE PEDAGANG KECIL,KINI TELAH DIBAYAR TUNAI OLEH SANG PEMILIK SEMESTA.

0
×

CERPEN, PERJUANGAN DUA DEKADE PEDAGANG KECIL,KINI TELAH DIBAYAR TUNAI OLEH SANG PEMILIK SEMESTA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 28 MEI 2026

Suara bising Pasar Cikampek selalu menjadi panggung utama bagi Sukirman Selama dua puluh tahun, lelaki paruh baya itu setia berdiri di balik meja kayu kecilnya, menawarkan kain batik murah kepada setiap pengunjung yang lewat.

Wajahnya yang dihiasi kerutan dalam adalah peta dari ribuan hari yang ia lalui di bawah terik matahari dan kepulan asap kendaraan.Namun, di balik penampilannya yang bersahaja,Sukirman menyimpan sebuah rahasia besar di sudut kamar tidurnya,sebuah celengan bambu besar yang terus berganti setiap kali penuh.

Bagi Sukirman, setiap lembar uang seribuan atau lima ribuan yang tersisa dari keuntungan dagangnya bukan sekadar alat tukar. Uang-uang itu adalah batu bata yang ia susun dengan sabar untuk membangun jembatan menuju impian tertingginya, bersujud di depan Ka’bah.

Memulai niat ini dua puluh tahun lalu bukanlah hal mudah,Banyak tetangga yang mencibir, menganggap impian seorang pedagang kain emperan untuk pergi ke Mekah adalah hal yang mustahil. Belum lagi ujian hidup yang datang silih berganti,mulai dari harga bahan pokok yang terus melonjak, sepinya pasar saat pandemi, hingga kebutuhan sekolah anak-anaknya yang mendesak.

Seringkali,Sukirman harus menahan lapar dan menambal bajunya yang mulai pudar warnanya demi memastikan beberapa keping koin tetap bisa masuk ke dalam celengan bambunya malam itu. Di setiap sepertiga malam, dalam sujudnya yang basah oleh air mata, ia selalu membisikkan doa yang sama, “Ya Allah, panggillah hamba ke rumah-Mu.

Waktu terus berjalan hingga angka penantian itu genap menyentuh dua puluh tahun. Hari yang dinantikan itu akhirnya tiba ketika sebuah surat keputusan dari kementerian agama sampai ke rumahnya.

Sukirman dinyatakan berhak berangkat ke Tanah Suci,Celengan-celengan bambu yang selama dua dekade menjadi saksi bisu perjuangannya kini telah menjelma menjadi selembar tiket keberangkatan dan pakaian ihram putih bersih.

Saat kakinya pertama kali menginjak lantai Masjidil Haram yang dingin, tubuh Sukirman bergetar hebat. Matanya langsung tertuju pada bangunan kubus hitam yang selama ini hanya bisa ia lihat di kalender dinding rumahnya,Ka’bah.

Di tengah ribuan manusia yang bertawaf,Sukirman jatuh tersungkur dalam sujud yang sangat dalam. Semua rasa lelah, lapar, dan rindu yang ia pendam selama dua puluh tahun di sudut pasar mendadak menguap tanpa sisa.

Air matanya mengalir deras membasahi lantai marmer saat kalimat itu akhirnya keluar dari bibirnya yang bergetar, “Labbaikallahumma Labbaik… Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.” Perjuangan dua dekade seorang pedagang kecil itu kini telah dibayar tunai oleh Sang Pemilik Semesta.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *