Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

LELAH PULUHAN TAHUN MENGUAP TANPA SISA,MELIHAT DUA PERMATANYA,SIAP MENATA RASA.

11
×

LELAH PULUHAN TAHUN MENGUAP TANPA SISA,MELIHAT DUA PERMATANYA,SIAP MENATA RASA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 22 KARAWANG 2026

Fajar belum sepenuhnya terbangun,Saat langkah kakinya mulai berayun.Memanggul karung lusuh yang setia menemani,Menyusuri jalanan dingin sepi tak bertepi.

Di jemarinya yang kasar dan legam,Ada asa yang tak boleh tenggelam.Memilah plastik, memungut botol sisa,Di antara bau menyengat yang menyiksa.

Ia tak peduli peluh menetes membasahi bumi,Atau pandangan asing yang mencaci sunyi.Sebab di kepalanya hanya ada dua wajah,Dua titipan Tuhan yang tak boleh menyerah.

Satu untuk makan hari ini,” bisiknya dalam hati,”Satu lagi tabungan sekolah esok hari.”Dua anaknya adalah sepasang sayap,Yang membuatnya terbang melompati lelah yang menyergap.

Saat senja menjemput pulang ke gubuk tua,Lelahnya luruh demi melihat senyum mereka.Dua pasang mata menyambut penuh binar,Membuat dunia yang sempit terasa begitu segar.

Di bawah lampu teplok yang temaram,Ia belai rambut mereka sebelum malam makin kelam.”Belajarlah yang rajin, wahai anakku,” lirihnya berpesan,”Jangan sampai punggungmu merasakan beban yang ayah rasakan.

Ia hanyalah seorang pemulung yang dianggap tiada,Namun di mata kedua anaknya, ia adalah pahlawan semesta.

Berjuang mencuri masa depan dari tempat sampah,Agar hidup dua permata hatinya tak lagi susah.Tahun-tahun melebur bersama debu dan peluh,Namun punggung tua itu menolak untuk runtuh.

Karung lusuh yang dulu digendong saban hari,Kini telah menunaikan janji yang ia bawa pergi.Hari ini, gubuk tua itu mendadak terang,Bukan karena lampu, tapi karena badai telah menang.

Dua pasang toga hitam kini bersanding gagah,Membayar tuntas tiap tetes keringat yang tumpah.Tangan yang dulu legam dan penuh luka,Kini digenggam erat dengan rasa bangga terbuka.

Ayah, kami lulus,bisik mereka penuh haru,Di atas panggung yang megah, di bawah langit baru.Air mata tua menetes di pipinya yang berkerut,Bukan karena sedih, tapi rasa syukur yang terpaut.

Bau sampah yang dulu melekat di badannya,Kini harum oleh doa-doa yang dikabulkan-Nya.Ia melihat sepasang sayap yang dulu kecil dan lemah,Kini siap terbang tinggi, menantang dunia yang megah.

Lelah puluhan tahun menguap tanpa sisa,Melihat dua permatanya siap menata masa.Pahlawan tanpa tanda jasa itu tersenyum lebar,Tugas besarnya mendidik dunia kini telah pudar.Dari tumpukan jelaga dan hinanya pandangan manusia,Ia berhasil melahirkan sarjana, pemenang dunia.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *