Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

Pemerintah Tutup mata,warga desa Karang Anyar Karawang Abah Encing 65 tahun Tidak tersentuh Bantuan

14
×

Pemerintah Tutup mata,warga desa Karang Anyar Karawang Abah Encing 65 tahun Tidak tersentuh Bantuan

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG Di tengah gemuruh program bantuan sosial dan kebijakan pemerintah desa yang katanya berpihak kepada rakyat kecil, nyatanya masih ada kehidupan yang berjalan tanpa pernah tersentuh perhatian. Di RT 017/004 Kampung Ciwiru, Desa Karang Anyar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang.

sepasang lansia hidup dalam sunyi yang tak pernah dicatat. Abah Encing (65) dan Ma Ani (57), suami istri pekerja serabutan, menjalani hari-hari tua mereka tanpa sedikit pun bantuan dari pemerintah atau aparat desa setempat.

Mereka bukan warga baru, bukan pula pendatang gelap. Mereka lahir dan besar di desa ini, namun ironis, nama mereka tak pernah masuk dalam daftar penerima bantuan—baik sembako, BLT, BPNT, apalagi perhatian sosial.

pekerjaan serabutan, dan penghasilan nyaris tak ada. “Kami hidup seadanya, tidak berharap mewah, cuma ingin dipandang manusia,” ujar Ma Ani pelan, sembari mengelap peluh di wajah tuanya.

Ketua RT, Kunrat, dan Kepala Desa Karang Anyar, Udin Nurdin (yang akrab disapa Menot), hingga kini belum memberi kejelasan mengapa Abah Encing dan Ma Ani tak pernah tercatat sebagai penerima bantuan.

Padahal, kriteria kemiskinan dan usia mereka jelas memenuhi syarat. Pertanyaan pun menggantung di udara: Apakah perangkat desa benar-benar melihat warganya, atau sekadar sibuk dengan laporan yang tak menyentuh realita?

Sunyi mereka adalah bukti bahwa ada yang keliru dalam sistem pendataan sosial. Bahwa tidak semua penderitaan bisa terbaca dari angka-angka di atas kertas. Banyak warga yang seperti Abah Encing dan Ma Ani—hidup dalam diam, tak masuk dalam data, dan akhirnya terpinggirkan dalam pembangunan.

Jika suara mereka tak terdengar, apakah itu karena mereka bisu, atau karena kita semua yang memilih tuli?/atau paktor kesengajaan dari aparatur desa yang mungkin seolah dia bukan saudaranya.

Ini bukan untuk menyudutkan, tapi untuk membangunkan. Karena sejatinya, negara hadir untuk yang lemah, dan desa adalah rumah pertama bagi warganya. Jangan biarkan lansia di desa kita menjalani hari tua dalam diam yang panjang. Sunyi mereka bukan karena tak ingin bicara, tapi karena tak pernah ada yang mau mendengarkan.

(M Muhidin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *